Cara Meredakan Nyeri Akibat Endometriosis Dengan Campuran Minyak Essensial




Berdasar satu studi yang terhimpun dalam Journal of Clinical Medicine, minyak mendasar didapati mempunyai dampak aromaterapi yang cukup ampuh untuk menurunkan ngilu karena endometriosis. Meskipun begitu, terdapat beberapa type minyak mendasar serta tiap salah satunya mempunyai dampak yang bermacam.

Anda mungkin butuh coba beberapa macam minyak mendasar sebelum temukan type minyak yang paling ampuh menangani keluhan ngilu. Lalu, apa type minyak mendasar itu?

Type minyak mendasar untuk menurunkan tanda-tanda endometriosis

Beberapa riset sudah dikerjakan untuk tahu kehebatan minyak mendasar dalam menangani tanda-tanda endometriosis. Antara jumlahnya type minyak mendasar, berikut beberapa yang paling menjanjikan:

1. Minyak lavender Minyak lavender sudah lama diketahui jadi bahan alami untuk menurunkan beberapa type ngilu. Buat menangani ngilu karena menstruasi atau endometriosis, minyak ini umumnya dioles-oleskan pada ruang perut serta dipakai jadi minyak pijat.

Pijatan bisa merangsang produksi hormon endorfin yang menolong menurunkan ngilu pada badan Anda. Saat yang sama, minyak lavender akan merangsang produksi hormon adrenokortikotropik yang lancarkan saluran darah menstruasi.

2. Gabungan minyak lavender, cengkeh, kayu manis, serta mawar

Satu riset temukan jika kombinasi minyak mendasar dari cengkeh, kayu manis, lavender, serta mawar ampuh untuk menurunkan tanda-tanda endometriosis. Kombinasi minyak ini dapat menolong menangani menstruasi terlalu berlebih.

Untuk membuat lebih efisien, beberapa periset memakai minyak mendasar dari almond. Gabungan semua bahan itu menolong kurangi rasa kuatir serta memberi dampak santai hingga badan lebih dapat menangani rasa sakit.

3. Gabungan minyak lavender, daun sage, serta marjoram Minyak daun sage serta marjoram mungkin tidak setenar type minyak mendasar yang lain. Walau sebenarnya, kombinasi keduanya ditambah minyak lavender dipercaya bisa menurunkan keluhan ngilu karena menstruasi serta kurangi durasinya.

Satu riset dikerjakan di Taiwan untuk mengetes ini. Peserta riset disuruh memakai cream yang dibuat dari kombinasi minyak lavender, daun sage, serta marjoram. Hasilnya, tingkat serta waktu ngilu alami penurunan pada siklus menstruasi selanjutnya.

4. Gabungan minyak lavender, mawar, serta clary sage Sedikit riset yang menunjukkan kehebatan gabungan minyak mendasar dari lavender, mawar, serta clary sage untuk menangani tanda-tanda endometriosis. Tetapi, satu studi pada tahun 2006 memberi hasil yang menjanjikan.

Sesudah memakai kombinasi minyak itu, tes dikerjakan buat mengukur tingkat ngilu yang dirasakan peserta riset. Tingkat ngilu nyatanya alami penurunan dengan relevan. Mereka tidak rasakan kram yang kronis, seperti sebelum memakai minyak.

Panduan memakai minyak mendasar untuk tangani ngilu

Minyak mendasar semestinya tidak dioles-oleskan dengan cara langsung pada kulit sebab beresiko menyebabkan reaksi alergi. Anda butuh menyiapkan minyak pelarut berbentuk minyak zaitun, minyak kelapa, atau minyak almond.

Campur 30 ml minyak pelarut dengan 15 tetes minyak mendasar. Kemudian, berikan pada dada, leher, atau perut bawah.

Minyak mendasar adalah bahan alami yang punya potensi untuk menangani tanda-tanda endometriosis. Tetapi, beberapa macam minyak mendasar dapat berhubungan dengan obat. Yakinkan Anda konsultasi terlebih dulu dengan dokter.

Diluar itu, sebagian orang dapat alami resikonya seperti pusing atau ada ruam pada kulit. Jika keadaan ini berlangsung pada Anda, hentikan penggunaan. Anda mungkin butuh cari langkah lain yang lebih cocok untuk menangani tanda-tanda endometriosis.

Baca :Faedah Minyak Mendasar untuk Perawatan Kulit yang Telah Dapat dibuktikan

4 Langkah Alami Menangani Tanda-tanda Endometriosis di Rumah

Untuk Golongan Udara, Ketahui Sinyal serta Tanda-tanda Endometriosis Semenjak Awal!

Bagi artikel ini: Bagi ini:Click untuk bagikan di Facebook(Buka di jendela yang baru)

Click untuk share pada Twitter(Buka di jendela yang baru)

Click untuk share di WhatsApp(Buka di jendela yang baru)

Click untuk share pada Tumblr(Buka di jendela yang baru)

Click untuk share di Linkedln(Buka di jendela yang baru)

Click untuk share di Line new(Buka di jendela yang baru)

Direview tanggal: November 3, 2019 | Paling akhir Diedit: November 1, 2019

Sumber Lee, M., Lee, H., Khalil, M., Lim, H. and Lim, H. (2018). Aromatherapy for Managing Pain in Primary Dysmenorrhea: A Systematic Ulasan of Randomized Placebo-Controlled Trials. Journal of Clinical Medicine, 7(11), p.434.

Are Essential Oils for Endometriosis a Viable Pilihan? https://www.healthline.com/health/essential-oils-for-endometriosis Dibuka pada 25 September 2019.

Can essential oils ease endometriosis symptoms? https://www.medicalnewstoday.com/articles/326114.php Dibuka pada 25 September 2019.

Treating endometriosis symptoms at home. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321402.php Dibuka pada 25 September 2019.

Can Essential Oils Act As Pain Relievers? https://www.healthline.com/health/pain-relief/essential-oils-for-pain Dibuka pada 25 September 2019.

Han, S., Hur, M., Buckle, J., Choi, J. and Lee, M. (2006). Effect of Aromatherapy on Symptoms of Dysmenorrhea in College Students: A Randomized Placebo-Controlled Clinical Trial. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 12(6), pp.535-541.

Ou, M., Hsu, T., Lai, A., Lin, Y. and Lin, C. (2012). Pain relief assessment by aromatic essential oil massage on outpatients with primary dysmenorrhea: A randomized, double-blind clinical trial. Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 38(5), pp.817-822.

Marzouk, T. M., El-Nemer, A. M., & Baraka, H. N. (2013). The effect of aromatherapy abdominal massage on alleviating menstrual pain in nursing students: a prospective randomized cross-over study. Evidence-based complementary and alternative medicine : eCAM, 2013, 742421. pacar:10.1155/2013/742421.

Bakhtshirin, F., Abedi, S., YusefiZoj, P., & Razmjooee, D. (2015). The effect of aromatherapy massage with lavender oil on severity of primary dysmenorrhea in Arsanjan students. Iranian journal of nursing and midwifery research, 20(1), 156–160.

Posting Komentar

0 Komentar